Teori efek kepakan kupu-kupu
Oktober 21, 2009
Edward Norton Lorenz menemukan efek kupu-kupu atau apa yang menjadi landasan teori chaos pada tahun 1961 di tengah-tengah pekerjaan rutinnya sebagai peneliti meteorologi. Ia dilahirkan pada 23 Mei 1917 di Amerika Serikat dan memiliki latar belakang pendidikan di bidang matematika dan meteorologi dari MIT. Dalam usahanya melakukan peramalan cuaca, dia menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer. Pada awalnya dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma (…,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas, ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (…,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi. Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Pada awalnya kedua kurva tersebut memang berimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang lain sama sekali. (http://id.wikipedia.org/wiki/Efek_kupu-kupu)
Hal ini menunjukkan prakiraan cuaca masih dalam perjalanan yang panjang menuju akurasi yang diinginkan. Dalam membuat prakiraan selalu banyak variabel-variabel yang disederhanakan (bahkan dihilangkan), karena tidak mungkin memasukkan semuanya (keterbatasan storage data dan kekuatan processor, juga waktu processing yang lama). Kadang kala variabel yang diabaikan itu yang ternyata memiliki pengaruh yang dominan. Hal inilah yang memunculkan istilah “kepakan sayap kupu-kupu di Brasil dapat secara teoritis menyebabkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian.”
Entry Filed under: iklim. Tag: kupu-kupu, prakiraan hujan.








Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed