Posts filed under 'iklim'
Petuah orang tua tentang prakiraan cuaca
1. Bila warna langit waktu pagi / senja sangat merah, tandanya hujan yg disertai petir akan tiba 4-5 jam kemudian.
Normalnya cuaca bergerak dari barat ke timur. Apabila ada awan dan atau badai mendekat , langit di barat akan sangat merah. Hal ini dikarenakan saat posisi matahari dibawah horison, sinar matahari akan dipencarkan sebagian dan diserap sebagian oleh debu/partikel-partikel kecil di udara (badai) dan juga oleh uap air (awan). Semua warna dari sinar matahari (warna pelangi) akan tidak terlihat kecuali warna dengan gelombang terpanjang (merah) yang tidak diserap/dipencarkan. Akibatnya langit menjadi sangat merah.

Senja memerah pertanda cuaca buruk(abstract.desktopnexus.com)
2. Bila pagi berkabut, cuaca pagi itu akan cerah. Bila sampai siang kabut tidak hilang juga, cuaca buruk akan terjadi pada sore hari.
Hal ini berhubungan dengan sifat kabut itu sendiri yang merupakan awan tipe stratus dengan dasarnya menyentuh tanah. Awan sendiri terbuat dari kumpulan uap air. Apabila cuaca cerah maka uap air akan cepat menguap sehingga kabut akan menghilang. Bila kabut tetap bertahan artinya matahari tidak sanggup menguapkan kabut dikarenakan terhalang awan (cuaca buruk), atau dikarenakan partikel-partikel lain yang bersama-sama uap air terlalu banyak (misal kabut asap)

Kabut sebenarnya adalah awan stratus yang menyentuh tanah (news.cultural-china.com)
3. Bila awan yang menggumpal itu semakin tegak dan memiliki topi, 1-2 jam lagi hujan dan petir terjadi.
Cumulunimbus (cb) dikenal sebagai awan yang menimbulkan hujan deras, petir, dan angin kencang

awan cumulonimbus: perhatikan puncaknya yang membentuk semacam topi (http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/39/Cumulonimbus_NOAA_gov.jpg)
4. Ketika sedang mendaki gunung terasa angin panas meniup punggung kita, 2-3 jam lagi akan hujan di puncak gunung.
Angin panas dari arah punggung berarti gerakan udara hangat berisi uap air yang didesak naik oleh massa udara yang lebih dingin. Hal ini sering menimbulkan hujan yang dikenal dengan hujan akibat pengaruh orografik.

Awan terbentuk akibat pengaruh orografik (http://earthsci.org/processes/weather/weaimages/terainc2.gif)
5. Bila bulan atau matahari seakan memiliki gelang di kelilingnya maknanya cuaca akan cerah.
Gelang ini dikenal dengan nama Halo. Awan Cirrostratus merupakan satu-satunya awan yang bisa memberi efek gelang ini, bila gelangnya terlihat besar maka cuaca cerah. Bila gelang kecil, awan sirus menjadi gelap dan menjadi Cirrustratus, pertanda akan terjadi hujan. Efek gelang ini terjadi karena awan Cirrustratus terbentuk dari partikel-partikel es dan membelokkan sinar matahari sebesar 22 derajat.

cirrustratus menyebabkan gelang matahari (http://www.bigbranch.net/cirrostratus.jpg)
6. Bila pada bagian atas matahari senja berwarna hijau, cuaca cerah hingga besok.
Saya belum tahu hubungannya secara ilmiah, warna dengan panjang gelombang terpendek adalah biru, jadi secara logika warna biru yang dominan berarti cuaca cerah. Warna dengan panjang gelombang terpendek kedua adalah hijau.

Warna hijau diatas matahari (wunderground.com)
7. Bila aroma tumbuh-tumbuhan dan bunga-bungaan terasa lebih tajam, akan terjadi hujan. Hal ini disebabkan tumbuhan membuka rongga2 nya utk bersiap menerima siraman air.
8. Lolongan/suara binatang lebih kuat dari biasanya pertanda akan hujan. Tentu saja perlu ketajaman naluri agar bisa kita bedakan dengan lolongan karena bahaya atau birahi.
9. Tingkah hewan juga bisa menjadi pertanda hujan, misal semut yang keluar dari sarang beramai-ramai memanjat pohon/ tempat perlindungan yg lain, anai-anai yg menutup lubang pintunya, burung-burung yang terbang ke sarang lebih sering dari biasa, tupai yg membawa makanan berlebihan ke sarang.
10. Bila ayam berteduh maka hujan akan lama, tapi bila ayam tetap berkeliaran di tanah berarti hujan hanya sebentar.
Hal ini berhubungan dengan cacing yang cenderung keluar dari tanah bila terjadi hujan yang merupakan makanan yang enak buat ayam tersebut
Binatang dan tumbuhan memiliki kepekaan yang lebih daripada manusia dalam mendeteksi perubahan kondisi alam.
===========================================================================
Mohon sugesti dan koreksi anda untuk artikel ini. Terima kasih banyak telah meluangkan waktu untuk membaca.
Add comment Oktober 21, 2009
Teori efek kepakan kupu-kupu
Edward Norton Lorenz menemukan efek kupu-kupu atau apa yang menjadi landasan teori chaos pada tahun 1961 di tengah-tengah pekerjaan rutinnya sebagai peneliti meteorologi. Ia dilahirkan pada 23 Mei 1917 di Amerika Serikat dan memiliki latar belakang pendidikan di bidang matematika dan meteorologi dari MIT. Dalam usahanya melakukan peramalan cuaca, dia menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer. Pada awalnya dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma (…,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas, ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (…,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi. Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Pada awalnya kedua kurva tersebut memang berimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang lain sama sekali. (http://id.wikipedia.org/wiki/Efek_kupu-kupu)
Hal ini menunjukkan prakiraan cuaca masih dalam perjalanan yang panjang menuju akurasi yang diinginkan. Dalam membuat prakiraan selalu banyak variabel-variabel yang disederhanakan (bahkan dihilangkan), karena tidak mungkin memasukkan semuanya (keterbatasan storage data dan kekuatan processor, juga waktu processing yang lama). Kadang kala variabel yang diabaikan itu yang ternyata memiliki pengaruh yang dominan. Hal inilah yang memunculkan istilah “kepakan sayap kupu-kupu di Brasil dapat secara teoritis menyebabkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian.”
Add comment Oktober 21, 2009
Prakiraan CH Kalsel Nopember 2009
I. PENGERTIAN
A. Sifat Hujan adalah perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan nilai rata-rata atau normalnya pada bulan tersebut di suatu tempat.
Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:
1) Di Atas Normal (A), jika perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115%
2) Normal (N), jika perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85%-115%
3) Di Bawah Normal (B), jika perbandingan terhadap rata-ratanya lebih kecil dari 85%
B. Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
C. Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama 30 tahun berturut – turut yang periode waktunya dapat ditentukan secara bebas.
D. Standar Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama 30 tahun berturut – turut yang periode waktunya sudah ditetapkan, yaitu:
1) 1 Januari 1901 s/d 31 Desember 1930,
2) 1 Januari 1931 s/d 31 Desember 1960,
3) 1 Januari 1961 s/d 31 Desember 1990,
4) 1 Januari 1991 s/d 31 Desember 2020,
dan seterusnya.
II. RINGKASAN
A. Tinjauan Kondisi Dinamika Atmosfir
Perkembangan dinamika atmosfir sejak bulan Juli 2009 hingga pertengahan bulan Oktober 2009 selama 3 bulan berturut-turut harga Indeks Osilasi Selatan (IOS) Juli(+8.0) , Agustus (0), September (+4.0), sampai pertengahan Oktober (-5.0). Anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik Equator bagian timur (NINO 3.4) pada Pertengahan Oktober 2009 tercatat (+0.83) ºC, Indian Ocean Dipole tercatat (-0.11) ºC, sedangkan posisi MJO terletak pada lingkaran kuadran 8 (West Hemisfere & Africa), Anomali OLR pada Bujur 115º BT (sekitar +10.0). Diprakirakan El-Nino masih berpengaruh dengan intensitas lemah. Suhu muka laut di wilayah perairan Kalimantan Selatan berkisar antara 28.0 – 29.0 ºC. Sementara itu Angin cenderung bertiup variabel.
Dari kondisi dinamika atmosfer dan historis hujan maka bulan Nopember 2009 diprakirakan seluruh wilayah Kalsel memasuki Musim Hujan. Prakiraan curah hujan bulan Nopember 2009 berkisar antara 77 mm- 277 mm per bulan, dengan sifat hujan Dibawah Normal sampai Normal. Curah hujan sudah mulai sering terjadi dan waspada terhadap bahaya petir dan angin kencang.
B. Evaluasi Hujan Bulan September 2009
1). Evaluasi Curah Hujan Bulan September 2009
Pada bulan September 2009 curah hujan di Kalimantan Selatan, sebagai berikut : 98 % curah hujan kurang dari 100 mm, 2 % curah hujan antara 101-200 mm, 0 % curah hujan antara 201-300 mm, 0 % curah hujan antara 301-400 mm, dan 0 % curah hujan diatas 400 mm.
2). Evaluasi Sifat Hujan Bulan September 2009
Sifat hujan bulan September 2009 di Kalimantan Selatan; 10 % diatas normal, 2 % normal, dan 88 % dibawah normal.
3). Evaluasi Hari Hujan Bulan September 2009
Jumlah hari hujan bulan September 2009 di Kalimantan Selatan; 100 % dibawah 11 hari, dan tidak ada yang lebih dari atau sama dengan 11 hari.
C. Prakiraan Hujan Bulan Nopember 2009
Prakiraan sifat hujan daerah Kalimantan Selatan bulan Nopember 2009;
1). Bawah normal (B) mencapai 67 %
2). Antara normal sampai dibawah normal (B-N) mencapai 30 %
3). Normal (N) mencapai 0 %
4). Antara normal sampai diatas normal (N-A) mencapai 3 %
5). Diatas normal (A) mencapai 0 %
Prakiraan curah hujan bulan Nopember 2009 daerah Kalimantan Selatan umumnya berkisar antara 77 mm sampai dengan 277 mm (lihat tabel).
D. Wilayah potensi bencana Nopember 2009
Seluruh wilayah Kalimantan Selatan memiliki resiko terkena petir/angin kencang dan bagian barat dan utara Kalsel waspada terhadap banjir/tanah longsor.
Add comment Oktober 19, 2009
EVALUASI HUJAN BULAN AGUSTUS 2009 PRAKIRAAN HUJAN BULAN OKTOBER 2009 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2009/2010
A. Tinjauan Kondisi Dinamika Atmosfir
Perkembangan dinamika atmosfir sejak bulan juni 2009 hingga pertengahan bulan September 2009 selama 3 bulan berturut-turut harga Indeks Osilasi Selatan (IOS) Juni(-6.8), Juli(+8.0) , Agustus (0), sampai pertengahan September (+4.0). Anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik Equator bagian timur (NINO 3.4) pada Pertengahan September 2009 tercatat +0.92 ºC, Indian Ocean Dipole tercatat +0.1 ºC, sedangkan posisi MJO terletak pada lingkaran kuadran 5 (Maritime Continent), Anomali OLR pada Bujur 115º BT (sekitar -10). Beberapa bulan mendatang diperkirakan masih dipengaruhi El-Nino. Suhu muka laut di wilayah perairan Kalimantan Selatan berkisar antara 28.0 – 29.0 ºC. Sementara itu Angin Pasat bertiup dari Timur sampai Selatan.
Dari kondisi dinamika atmosfer dan historis hujan maka bulan Oktober 2009 diprakirakan pada umumnya wilayah Kalsel masih berada pada kondisi Musim Kemarau, kecuali sebagian daerah sebelah Barat Pegunungan Meratus diprakirakan mulai musim hujan pada bulan Oktober Dasarian III. Prakiraan curah hujan bulan Oktober 2009 berkisar antara 0 mm- 110 mm per bulan, dengan sifat hujan sebagian besar Dibawah Normal. Curah hujan masih jarang terjadi dan waspada terhadap bahaya kebakaran.
B. Evaluasi Hujan Bulan Agustus 2009
1). Evaluasi Curah Hujan Bulan Agustus 2009
Pada bulan Agustus 2009 curah hujan di Kalimantan Selatan, sebagai berikut : 96 % curah hujan kurang dari 100 mm, 4 % curah hujan antara 101-200 mm, 0 % curah hujan antara 201-300 mm, 0 % curah hujan antara 301-400 mm, dan 0 % curah hujan diatas 400 mm.
2). Evaluasi Sifat Hujan Bulan Agustus 2009
Sifat hujan bulan Agustus 2009 di Kalimantan Selatan; 22 % diatas normal, 12 % normal, dan 66 % dibawah normal.
3). Evaluasi Hari Hujan Bulan Agustus 2009
Jumlah hari hujan bulan Agustus 2009 di Kalimantan Selatan; 99 % dibawah 11 hari, dan 1 % lebih dari atau sama dengan 11 hari.
C. Prakiraan Hujan Bulan Oktober 2009
Prakiraan sifat hujan daerah Kalimantan Selatan bulan Oktober 2009;
1). Bawah normal (B) mencapai 92 %
2). Antara normal sampai dibawah normal (B-N) mencapai 3 %
3). Normal (N) mencapai 0 %
4). Antara normal sampai diatas normal (N-A) mencapai 2 %
5). Diatas normal (A) mencapai 3 %
Prakiraan curah hujan bulan Oktober 2009 daerah Kalimantan Selatan umumnya berkisar antara 15 mm sampai dengan 110 mm (lihat tabel).
D. Wilayah potensi kekeringan/kebakaran Oktober 2009
Seluruh wilayah Kalimantan Selatan.
E. Informasi Cuaca Ekstrim Bulan Agustus 2009
1) Intensitas hujan terbesar selama 1 hari terjadi pada tanggal 12 Agustus 2009 di Amuntai tengah/ Kebun sari (Kab. Hulu Sungai Utara) yaitu 79.4 mm.
2) Terjadi suhu udara ekstrim di Staklim Banjarbaru 35.3 0 C pada tanggal 13 Agustus 2009.
3) Tidak terpantau kecepatan angin >45 km/jam.
4) Terjadi kelembaban udara < 40% yaitu 38% pada tanggal 20 Agustus 2009 di Staklim Banjarbaru.
F. Prakiraan Musim Hujan 2009/2010
| NO | LOKASI |
ZOM |
PRA |
PRA |
PERB. AMH |
AKHIR MH |
| KABUPATEN |
|
AMH09/10 |
SIFAT HUJAN |
THD RATA2 |
NORMAL |
|
| KAB. TABALONG | ||||||
|
1 |
BANUA LAWAS |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
2 |
HARUAI |
182 |
NOP I |
BN |
(+1) |
JUN I |
|
3 |
KELUA |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
4 |
MUARA HARUS |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
5 |
MUARA UYA |
182 |
NOP I |
BN |
(+1) |
JUN I |
|
6 |
MURUNGPUDAK M |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
7 |
MURUNGPUDAK P |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
8 |
TANJUNG/HIKUN |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
9 |
UPAU |
182 |
NOP I |
BN |
(+1) |
JUN I |
| KAB.BALANGAN | ||||||
|
1 |
BATUMANDI |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
2 |
JUAI |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
3 |
PARINGIN |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
| KAB. HSU | ||||||
|
1 |
AMUNTAI TENGAH |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
2 |
AMUNTAI UTARA |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
3 |
BABIRIK |
178 |
NOP I |
N |
0 |
MEI III |
| BANJANG |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
| SEI PANDAN |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
| KAB. HST | ||||||
|
1 |
BARABAI |
178 |
NOP I |
N |
0 |
MEI III |
|
2 |
BAS KAPAR |
178 |
NOP I |
N |
0 |
MEI III |
|
3 |
BATU BENAWA |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
4 |
BAU ILUNG |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
5 |
HANTAKAN |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
6 |
LAU |
178 |
NOP I |
N |
0 |
MEI III |
|
7 |
PANDAWAN |
178 |
NOP I |
N |
0 |
MEI III |
|
8 |
SMPK PT HAMBAWANG |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
| KAB.HSS | ||||||
|
1 |
ANGKINANG |
178 |
NOP I |
N |
0 |
MEI III |
|
2 |
DAHA SELATAN |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
3 |
KALUMPANG |
178 |
NOP I |
N |
0 |
MEI III |
|
4 |
KANDANGAN |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
5 |
PADANG BATUNG |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
6 |
PERUSDA S.BUANA |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
7 |
SIMPUR |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
8 |
SMPK SUNGAI RAYA |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
9 |
TELAGA LANGSAT |
178 |
NOP I |
N |
0 |
MEI III |
| KAB.TAPIN | ||||||
|
1 |
BAKARANGAN |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
2 |
BINUANG |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
3 |
BUNGUR |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
4 |
CLS BARINGIN |
171 |
OKT III |
N |
0 |
MEI I |
|
5 |
CRF TAMBARANGAN |
171 |
OKT III |
N |
0 |
MEI I |
|
6 |
HATUNGAN |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
7 |
LOK PAIKAT |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
8 |
PERUSDA RANTAU |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
9 |
PULAU PINANG UTARA |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
10 |
TAPIN SELATAN |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
11 |
TAPIN TENGAH |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
12 |
TAPIN UTARA |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
| KOTA BANJARMASIN | ||||||
| BJ MASIN UTARA |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
| KOTA BANJARBARU | ||||||
|
1 |
LANDASAN ULIN |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
2 |
STAKLIM BANJARBARU |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
3 |
STAMET SYAMSUDIN NOOR |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
| KAB. BANJAR | ||||||
|
1 |
ARANIO |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
2 |
BERUNTUNG BARU |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
3 |
D.SALAK ATANIK |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
4 |
D.SALAK ATAYO |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
5 |
D.SALAK GN.SARI |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
6 |
D.SALAK LAWA |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
7 |
D.SALAK LAWA BARU |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
8 |
D.SALAK MUNGGU |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
9 |
D.SALAK SALAM |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
10 |
D.SALAK UMBUL |
171 |
OKT III |
N |
0 |
MEI I |
|
11 |
GAMBUT |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
12 |
KERTAK HANYAR |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
13 |
KARANG INTAN |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
14 |
MARTAPURA |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
15 |
MATARAMAN |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
16 |
PENGARON |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
17 |
S. MAKMUR |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
18 |
SIMP EMPAT |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
19 |
SMPK SEI TABUK |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
20 |
S.PINANG |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
| KAB. BATOLA | ||||||
|
1 |
ANJIR PASAR |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
2 |
BARAMBAI |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
3 |
BELAWANG |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
4 |
MANDASTANA |
171 |
OKT III |
N |
(+2) |
MEI I |
|
5 |
MARABAHAN |
175 |
OKT III |
N |
0 |
MEI II |
|
6 |
RANTAU BADAUH |
171 |
OKT III |
N |
0 |
MEI I |
|
7 |
TABUNGANEN |
172 |
NOP I |
N |
(+2) |
JUN I |
|
8 |
TAMBAN |
172 |
NOP I |
N |
(+2) |
JUN I |
|
9 |
WANARAYA |
171 |
OKT III |
N |
0 |
MEI I |
| KAB. TANAH LAUT | ||||||
|
1 |
AFD 1 PANGGUNG BARU |
173 |
NOP II |
N |
(+2) |
MEI III |
|
2 |
AFD 2 AMBUNGAN |
173 |
NOP II |
N |
(+2) |
MEI III |
|
3 |
AFD 3 TEBING SIRING |
173 |
NOP II |
N |
(+2) |
MEI III |
|
4 |
BATI-BATI |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
|
5 |
BATU AMPAR |
173 |
NOP II |
N |
(+2) |
MEI III |
|
6 |
JORONG |
174 |
NOP III |
BN |
(+1) |
JUL I |
|
7 |
KINTAP |
174 |
NOP III |
BN |
(+1) |
JUL I |
|
8 |
KURAU |
173 |
NOP II |
N |
(+2) |
MEI III |
|
9 |
PANYIPATAN |
173 |
NOP II |
N |
(+2) |
MEI III |
|
10 |
PELAIHARI ANGSAU |
173 |
NOP II |
N |
(+2) |
MEI III |
|
11 |
SMPK PELAIHARI |
173 |
NOP II |
N |
(+2) |
MEI III |
|
12 |
TAKISUNG |
173 |
NOP II |
N |
(+2) |
MEI III |
|
13 |
TAMBANG ULANG |
172 |
NOP I |
N |
(+1) |
JUN I |
| KAB. KOTABARU | ||||||
|
1 |
HAMPANG |
176 |
NOP I |
BN |
(+2) |
JUN I |
|
2 |
KELUMPANG HILIR |
176 |
NOP I |
BN |
(+2) |
JUN I |
|
3 |
KELUMPANG UTARA |
176 |
NOP I |
BN |
(+2) |
JUN I |
|
4 |
PEMUKAN SELATAN |
176 |
NOP I |
BN |
(+2) |
JUN I |
|
5 |
PL TIMUR |
177 |
NOP III |
BN |
(+2) |
JUL III |
|
6 |
PL UTARA |
177 |
NOP III |
BN |
(+2) |
JUL III |
|
7 |
SAMPANAHAN |
176 |
NOP I |
BN |
(+2) |
JUN I |
|
8 |
STAMET STAGEN |
177 |
NOP III |
BN |
(+2) |
JUL III |
| KAB. TANAH BUMBU | ||||||
|
1 |
ANGSANA |
174 |
NOP III |
BN |
(+1) |
JUL I |
|
2 |
BATULICIN |
177 |
NOP III |
BN |
(+2) |
JUL III |
|
3 |
KR BINTANG |
176 |
NOP I |
BN |
(+2) |
JUN I |
|
4 |
KUSAN HILIR |
177 |
NOP III |
BN |
(+2) |
JUL III |
|
5 |
KUSAN HULU |
176 |
NOP I |
BN |
(+2) |
JUN I |
|
6 |
SEI LOBAN |
177 |
NOP III |
BN |
(+2) |
JUL III |
|
|
||||||
| KETERANGAN : | ||||||
| PRA AMH 2009/2010 : NOP II : Tgl 11 s/d 20 Nopember | ||||||
| Sifat hujan : N : Normal | ||||||
| Perb AMH thd rata2 : 0 : sama dengan rata2, (+1) : mundur 10 hari, (+2) mundur 20 hari | ||||||
| Akhir MH Normal : JUN I : Tgl. 1 Juni s/d 10 Juni | ||||||
Add comment Oktober 5, 2009







