Anomali Curah Hujan

Januari 6, 2008 at 8:30 pm 4 komentar

Anomali Curah Hujan

Dalam memprakirakan curah hujan suatu daerah dipergunakan berbagai metode dari statistik sampai model numerik yang memperhitungkan semua ataupun sebagian dari faktor-faktor yang dianggap memiliki pengaruh dominan pada atmosfer daerah tersebut. Dalam prakteknya para forecaster di daerah cenderung masih menggunakan metode statistik. Hal ini mengingat keterbatasan alat dan sumber daya di daerah. Metode statistik apapun yang dipakai apakah ARIMA, analisa Harmonis, polynomial, dan semacamnya biasanya menghasilkan prakiraan yang mengacu pada normal curah hujan sehingga untuk mengetahui besar akibat pengaruh dari anomali iklim global perlu ditambahkan nilai koreksi.

Anomali iklim global tersebut salah satunya adalah El Nino. Apabila kejadian El Nino tersebut bertepatan dengan kejadian southern Oscillation maka fenomena yang terjadi disebut El Nino Southern Oscillation (ENSO).

Kondisi Suhu Muka Laut Samudera Pasifik

Kondisi Suhu Muka Laut Samudera Pasifik

Ada hubungan langsung antara variasi presipitasi di Indonesia dan fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) (Berlage, 1957; Ropelewski and Halpert,1987,1989;wang et al.2003). van Oldenborgh (1998) telah menyelidiki korelasi antara presipitasi bulanan di beberapa stasiun di Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi Utara, Maluku dan anomali suhu muka laut di pasifik tengah (NINO 3,4). Sebagaimana Chang, et al (2004) telah menginvestigasi hubungan antara SST (sea surface temperature/ suhu muka laut) pada NINO-3 (5°5 – 5°N; 150°- 90°W) dengan curah hujan kontinen maritim yang dipengaruhi monsoon. Dengan memperhatikan pola variasi presipitasi regional dan global, para ilmuwan bisa menggunakan pola berulang dalam tinggi anomali dan ENSO ini sebagai salah satu alat dalam prakiraan iklim jangka panjang. Usaha ini telah dipelopori oleh Braak (1919, 1921), diikuti oleh Berlage (1957). Pada tahun 80’an Nichols (1981, 1983, 1984, dan 1985) secara intensif mengadakan penelitian mengenai interaksi samudera dan atmosfer untuk membangun model prakiraan musim di Indonesia. Studi terbaru oleh Aldrian (2003) menunjukkan pengaruh kenaikan lokal SST daerah NINO-3 pada variasi curah hujan di Indonesia. Prediksi musiman terkait ENSO memegang peran penting untuk meminimalisasi dampak ENSO di Indonesia. Salah satu dari dampak negatif El Nino adalah kekeringan hebat yang mengakibatkan berkurangnya panen tanaman. Kirono et al (1999) telah menganialisa data curah hujan bulanan dari 33 stasiun lebih dari 48 tahun untuk mendokumentasikan efek dari kejadian El Nino 1997/1998 pada curah hujan di Indonesia dan kemudian pada produksi beras. Pada sektor kehutanan CIFOR(1998) melaporkan bahwa pada tahun 1997-1998 kebakaran hutan (yang diakibatkan oleh kejadian El Nino) secara mendasar telah meningkatkan dampak krisis ekonomi dalam berbagai cara. Kerugian langsung dan kehilangan pendapatan akibat kebakaran diperkirakan mencapai 5-6 juta dolar. (Dodo Gunawan and Gode Gravenhorst, 2005).

Entry filed under: iklim. Tags: , , .

Assalamualaikum perubahan iklim

4 Komentar Add your own

  • 1. WINDA  |  April 30, 2008 pukul 7:59 am

    saya pengen tau apa sebenarnya yang terjadi di atmosfer kita sehingga terjadi anomali curah hujan?apa ada hubungannya dengan gas rumah kaca?

    Balas
  • 2. miftahulmunir  |  Mei 5, 2008 pukul 3:25 am

    Hubungannya sih ada. Karena anomali iklim global dipengaruhi bermacam penyebab, misalnya El Nino/ La Nina kan pada dasarnya adalah anomali suhu laut di perairan peru dan sekitarnya. Hujan di Indonesia juga sangat dipengaruhi suhu muka laut di region 3 dan 4 (perlu diteliti lebih lanjut, tiap daerah berbeda pengaruhnya). Dan semua tentang suhu tentunya berasal dari sumber energi terbesar yaitu matahari. GRK yang menyebabkan efek rumah kaca pada gilirannya menyebabkan suhu yang meningkat (daratan dan lautan). Interaksi sebenarnyanya tidak sesederhana itu tapi paling gak bisa memberikan gambaran efek berantai GRK pada anomali iklim. 🙂

    Balas
  • 3. defri  |  Agustus 4, 2009 pukul 2:28 pm

    mas, mau tanya, hubungan anomali curah hujan dengan kualitas daun teh ada tidak dan kalo cari bukunya dari apa ja??trimakasih sebelumnya

    Balas
    • 4. miftahulmunir  |  Agustus 5, 2009 pukul 12:14 am

      coba di http://www.ritc.or.id/berita/pelatihan-pemanfaatan-informasi-iklim-di-perkebunan-teh.html, saya lihat mereka punya beberapa file pdf yang membahas masalah ini.

      kebetulan basic ilmu saya bukan pertanian jadi tidak bisa membantu banyak dalam hal ini.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Arsip

Surabaya

Click for Surabaya Perak, Indonesia Forecast

Banjarmasin

Click for Banjarmasin, Indonesia Forecast

Balikpapan

suhu

Jakarta

Semarang

Denpasar

Kupang

Nang lain

  • Tak ada

klik

  • 61,056 klok

Top Rated

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Checker

%d blogger menyukai ini: